Rp16 Ribu per Batang: Jalan Panjang Rotan Manau dari Siberut ke Cirebon
Di hulu rantainya, sebatang rotan manau tiga meter berpindah tangan seharga sekitar Rp16.000. Di hilirnya menunggu bengkel-bengkel mebel Cirebon — dan di tengahnya ada taman nasional 190.500 hektare, satu kasus 30 ribu batang ilegal, dan sebuah skema yang membuat panen warga bisa legal.
Ada satu angka yang enak dipegang untuk memahami ekonomi hutan Siberut: sekitar Rp16.000. Itu harga yang dibayarkan pengepul di Mentawai untuk sebatang rotan manau sepanjang tiga meter, sebagaimana terekam dalam laporan foto ANTARA Sumbar tentang pengolahan rotan manau di Mentawai. Enam belas ribu rupiah untuk sebatang rotan yang harus lebih dulu keluar dari hutan Siberut dan tiba di dermaga sebelum dikapalkan menyeberangi laut.
Dari dermaga itu, batang yang sama menempuh jalan yang jauh lebih panjang daripada jalan setapak di hutannya. Ia menyeberangi laut ke Padang, lalu melintasi Sumatera dan Jawa, dan banyak di antaranya berakhir di Cirebon, Jawa Barat — salah satu pusat industri mebel rotan negeri ini. Rute pengiriman sampai ke Cirebon itu disebutkan baik oleh ANTARA Sumbar maupun oleh Mongabay Indonesia dalam liputannya tentang rotan manau Siberut (Januari 2022).
Di antara harga di hulu dan pasar di hilir itu terbentang cerita yang lebih rumit: hutan yang sebagian besar berstatus taman nasional, kasus pengangkutan ilegal puluhan ribu batang, dan — bagian yang paling jarang diceritakan — sebuah jalur resmi yang kini tersedia bagi warga untuk memanen dan menjual rotan secara legal. Tulisan ini mencoba menyusuri rantai itu dari pangkal ke ujung.
Ekonomi Mentawai masih ekonomi hutan dan kebun
Rotan bukan catatan kaki dalam perekonomian Kepulauan Mentawai. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 47,42 persen dari PDRB kabupaten pada 2024 — hampir separuh seluruh nilai ekonomi daerah, dan sejauh ini sektor yang paling dominan (BPS, via Databoks). Angka-angka dasar Mentawai selengkapnya, dengan sumber per baris, tersusun di halaman Mentawai dalam Angka.
Siberut adalah pulau terbesar di kabupaten ini (Wikipedia), dan sebagian besar tubuhnya adalah hutan dengan status istimewa. Taman Nasional Siberut membentang 190.500 hektare, ditetapkan lewat SK Menteri Kehutanan No. 407/Kpts-II/1993 (Ditjen KSDAE, Kementerian Kehutanan). Lebih luas lagi, seluruh pulau — sekitar 405.000 hektare — sudah dinyatakan sebagai cagar biosfer Man and Biosphere UNESCO sejak 1981 (Wikipedia Indonesia; Ditjen KSDAE).
Isi hutan itu bukan hutan biasa. Catatan kawasan menyebut sedikitnya 896 jenis tumbuhan berkayu, 31 jenis mamalia, dan 134 jenis burung, termasuk empat primata endemik yang terancam punah: bilou (siamang kerdil), simakobu, joja, dan beruk Mentawai (Wikipedia Indonesia; Ditjen KSDAE). Di sela-sela pohon besar itulah rotan manau tumbuh — dan di sinilah persoalannya bermula: komoditas yang paling dicari justru banyak berada di dalam kawasan yang paling dilindungi.
Manusianya, sebaliknya, sangat sedikit. Kepadatan penduduk kabupaten hanya 15 jiwa per kilometer persegi pada 2023, dan Siberut Barat adalah kecamatan paling lengang di seluruh Mentawai: 7 jiwa per kilometer persegi (BPS, Kabupaten Kepulauan Mentawai Dalam Angka, via Wikipedia Indonesia). Perbandingan itu penting untuk membaca cerita rotan: di pulau yang hutannya sangat luas dan penduduknya sangat jarang, hasil hutan seperti manau bukan pelengkap ekonomi rumah tangga — barang hutan semacam inilah yang sejak lama membentuk ekonomi tunai Siberut (The Global Review; TFCA Sumatera).
Manau: rotan kelas premium yang tumbuh subur di Siberut
Rotan manau (Calamus manan) adalah kasta atas di dunia rotan: berdiameter besar, kuat, lentur, dan menjadi bahan utama rangka mebel. Menurut liputan Mongabay Indonesia, manau tumbuh melimpah di Siberut, termasuk di dalam kawasan Taman Nasional Siberut di wilayah Sagulubbeg. Bagi industri mebel, manau adalah tulang punggung kursi dan rangka; bagi warga Siberut, ia barang hutan yang bisa langsung ditukar menjadi uang tunai di tingkat pengepul (ANTARA Sumbar).
Kerja di hulu rantai ini nyaris tak terlihat dari hilir; yang terdokumentasi publik antara lain lewat laporan foto ANTARA Sumbar tentang pengolahan rotan manau di Mentawai — berikut harganya di tingkat pengepul: sekitar Rp16.000 untuk sebatang manau sepanjang tiga meter. Dari pengepul, rotan menempuh penyeberangan laut Mentawai–Padang, pintu keluar-masuk barang kepulauan ini, sebelum perjalanan darat yang panjang ke Jawa. Bagaimana penyeberangan itu bekerja — kapal apa melayari rute mana, dan mengapa jadwalnya berputar — kami uraikan di artikel tentang kapal Padang–Mentawai.
Perlu dikatakan dengan jujur: berapa persisnya batang manau yang keluar dari Siberut setiap tahun tidak tercantum dalam sumber-sumber yang kami pegang, dan kami memilih tidak menebak. Yang bisa dipegang adalah harga di tingkat pengepul (ANTARA Sumbar), tujuan pengiriman ke Cirebon (ANTARA Sumbar; Mongabay Indonesia), dan satu angka lain yang justru datang dari sisi gelap perdagangan ini.
Ketika 30 ribu batang keluar lewat jalan gelap
Angka itu: lebih dari 30.000 batang. Mongabay Indonesia (7 Januari 2022) melaporkan bahwa puluhan ribu batang rotan manau — disebutkan lebih dari 30 ribu — diangkut secara ilegal dari kawasan Taman Nasional Siberut. Kasus itu memicu penertiban gabungan oleh aparat dan balai taman nasional.
Skala itu layak direnungkan sejenak. Jika sebatang dihargai sekitar Rp16.000 di tingkat pengepul, 30 ribu batang berarti nilai ratusan juta rupiah di hulu saja — dan berlipat kali lebih besar begitu menjadi rangka mebel di Jawa. Insentif ekonominya nyata, dan tekanan pada kawasan konservasinya juga nyata. Di sinilah rotan manau menjadi contoh telanjang dari dilema tua kehutanan Indonesia: barang yang paling bernilai bagi warga sekitar hutan sering kali berdiri di sisi yang salah dari garis batas kawasan.
Yang membedakan cerita Siberut dari banyak cerita serupa adalah babak berikutnya. Penertiban tidak berhenti sebagai penertiban; balai taman nasional membuka pintu yang selama ini tertutup.
Kemitraan konservasi: cara menjual manau tanpa melanggar hukum
Sejak 2021, Balai Taman Nasional Siberut menjalankan skema kemitraan konservasi untuk pemungutan hasil hutan bukan kayu (HHBK) berupa rotan manau (Balai TN Siberut, Juli 2021). Intinya: kelompok masyarakat setempat bermitra resmi dengan balai, lalu memperoleh akses legal untuk memanen rotan manau di dalam kawasan sesuai ketentuan skema itu — bukan lagi memanen diam-diam dengan risiko berhadapan dengan hukum.
Bagi siapa pun di Siberut yang selama ini bertanya "bagaimana caranya menjual rotan dari kawasan secara sah" — dan pertanyaan itu nyata, karena manau terbaik banyak tumbuh di dalam kawasan — skema inilah jawabannya menurut balai taman nasional. Jalur formalnya melalui balai sebagai pengelola kawasan; informasi program kemitraan konservasi HHBK rotan manau dipublikasikan Balai TN Siberut di situs resminya, tamannasionalsiberut.org.
Skema semacam ini juga mengubah hitungan dagangnya. Rotan yang legal bisa dijual terang-terangan, ditimbang di dermaga tanpa was-was, dan — setidaknya secara prinsip — membuka jalan bagi kelompok pemanen untuk menawar harga, bukan sekadar menerima harga. Apakah dalam praktiknya posisi tawar pemanen benar-benar membaik, sumber-sumber kami belum mencatatnya; yang terdokumentasi baru keberadaan skemanya sendiri (Balai TN Siberut; Mongabay Indonesia).
Rotan dalam sejarah panjang uang tunai Siberut
Rotan bukan komoditas tunai pertama yang keluar dari hutan Siberut, dan hampir pasti bukan yang terakhir. Sejarah ekonomi pulau ini adalah sejarah barang hutan yang silih berganti dicari pasar: kayu gelondongan pada era konsesi penebangan, gaharu yang konsesinya sudah ada sejak zaman Orde Baru, cengkih yang ditanam sebagai tanaman uang, dan rotan yang bertahan sampai hari ini (resensi buku "Merebut Kembali Hutan Siberut", The Global Review; TFCA Sumatera).
Kisah pergulatan itu bahkan sudah menjadi buku: "Merebut Kembali Hutan Siberut untuk Masyarakat Adat Mentawai", yang menelusuri bagaimana konsesi demi konsesi datang ke pulau ini dan bagaimana masyarakat adat menegosiasikan kembali haknya atas hutan (resensi The Global Review). Catatan TFCA Sumatera menggarisbawahi hal yang sama dari sisi warga: bagi masyarakat Mentawai, hutan bukan sekadar cadangan komoditas, melainkan tempat hidup yang aturannya diwariskan — dan setiap gelombang komoditas baru selalu menguji ulang aturan itu.
Pola lamanya berulang: nilai ditetapkan jauh dari pulau, warga setempat berdiri di ujung rantai yang paling murah, dan hutan menanggung tekanannya. Kemitraan konservasi adalah salah satu upaya pertama yang terdokumentasi untuk memutus pola itu pada komoditas rotan — dengan menjadikan warga pemanen sebagai pihak yang sah, bukan pihak yang dikejar.
Konteks yang lebih luas juga membantu di sini. Di kebun-kebun Mentawai, petani kecil tidak menggantungkan hidup pada satu komoditas; mereka mencampur kelapa, nilam, pinang, pisang, dan tanaman lain sebagai strategi bertahan (The Conversation Indonesia, 2025) — strategi yang kami bahas lebih panjang di artikel tentang kelapa, nilam, dan sagu. Rotan duduk di keranjang yang sama: satu dari beberapa sumber tunai, bukan satu-satunya. Dan bagi yang hendak melangkah dari memanen ke mengolah — dari menjual batang ke menjual barang — pertanyaan berikutnya hampir selalu soal modal, yang kami telusuri di artikel tentang KUR dari kepulauan.
Yang tersisa di dermaga
Kembali ke angka pembuka: sekitar Rp16.000 per batang tiga meter (ANTARA Sumbar). Harga itu adalah pangkal dari rantai yang ujungnya berupa kursi rotan di ruang tamu entah di kota mana. Hampir seluruh nilai tambahnya — pengolahan, desain, perakitan, merek — tercipta ribuan kilometer dari Siberut, di sentra-sentra seperti Cirebon.
Pertanyaan ekonominya sederhana untuk diajukan dan sulit untuk dijawab: berapa banyak dari nilai tambah itu yang suatu hari bisa tinggal lebih lama di pulau? Skema legal sudah ada menurut balai taman nasional; bahan bakunya melimpah menurut Mongabay; pasarnya terbukti menyerap sampai puluhan ribu batang bahkan lewat jalur gelap. Bahan-bahan dasarnya tersedia. Yang belum tercatat dalam sumber mana pun yang kami pegang adalah industri hilir rotan di Mentawai sendiri — bengkel yang mengubah batang menjadi mebel jadi — dan absennya catatan itu mungkin adalah datum yang paling menggambarkan posisi Mentawai dalam rantai ini hari ini.
Sumber
- ANTARA Sumbar — Pengolahan rotan manau di Mentawai (laporan foto) — https://sumbar.antaranews.com/foto/599913/pengolahan-rotan-manau-di-mentawai
- Mongabay Indonesia — Kala puluhan ribu batang rotan manau Taman Nasional Siberut diangkut ilegal — https://www.mongabay.co.id/2022/01/07/kala-puluhan-ribu-batang-rotan-manau-taman-nasional-siberut-diangkut-ilegal/ (2022-01-07)
- Balai Taman Nasional Siberut — Kemitraan konservasi HHBK rotan manau — https://www.tamannasionalsiberut.org/2021/07/kemitraan-konservasi-hhbk-rotan-manau.html (2021-07)
- Ditjen KSDAE, Kementerian Kehutanan — Profil kawasan Taman Nasional Siberut — https://ksdae.kehutanan.go.id/kawasan-konservasi/100241003/ (diakses 2026)
- Wikipedia Indonesia — Taman Nasional Siberut — https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Siberut (diakses 2026)
- Wikipedia Indonesia — Kabupaten Kepulauan Mentawai (kepadatan penduduk, data BPS Dalam Angka) — https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kepulauan_Mentawai (diakses 2026)
- Databoks (Katadata), data BPS — Sektor utama penggerak perekonomian Kepulauan Mentawai 2024 — https://databoks.katadata.co.id/ekonomi-makro/statistik/a9931610b6e727a/sektor-utama-penggerak-perekonomian-di-kabupaten-kepulauan-mentawai-pada-2024 (data 2024)
- The Global Review — Resensi buku "Merebut Kembali Hutan Siberut untuk Masyarakat Adat Mentawai" — https://theglobal-review.com/resensi-buku-merebut-kembali-hutan-siberut-untuk-masyarakat-adat-mentawai/ (diakses 2026)
- TFCA Sumatera — Hutan di mata masyarakat Mentawai — https://tfcasumatera.org/hutan-dimata-masyarakat-mentawai/ (diakses 2026)
- The Conversation Indonesia — Nasib petani kecil di tengah perubahan iklim: strategi bertahan dari Mentawai hingga Fakfak — https://theconversation.com/nasib-petani-kecil-di-tengah-perubahan-iklim-strategi-bertahan-dari-mentawai-hingga-fakfak-252576 (2025)